BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan program sirkular dalam pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan masyarakat secara bertahap telah berjalan di sejumlah wilayah. Program ini mengintegrasikan pengolahan sampah, urban farming, serta pemenuhan gizi melalui Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farjan, mengatakan tantangan utama saat ini adalah belum meratanya keberadaan Dahsat di setiap RW. Oleh karena itu, Pemkot mengambil langkah awal dengan memastikan setiap kelurahan minimal memiliki satu Dahsat sebagai fondasi penguatan program sirkular.
“Kalau Buruan Sae dan pengolahan sampah, rata-rata di kelurahan sudah ada. Yang sekarang kita pastikan dulu adalah dapur sehat atasi stunting di tingkat kelurahan,” ujar Farjan, Jumat (09/01/2026).
Ia menambahkan, perhatian khusus juga diberikan kepada kelurahan yang memiliki keterbatasan lahan, terutama dalam pengelolaan dan pengolahan sampah. Untuk wilayah tersebut, Pemkot akan menyiapkan perlakuan serta skema khusus agar tetap dapat terlibat dalam program sirkular.
“Memang ada beberapa kelurahan yang kesulitan lahan. Ini nanti ada penanganan khusus, tidak bisa disamakan dengan kelurahan yang lahannya memadai,” katanya.
Secara konsep, program sirkular dirancang membentuk rantai berkelanjutan. Sampah organik diolah menjadi kompos atau media tanam untuk mendukung urban farming. Hasil urban farming kemudian dimanfaatkan oleh dapur sehat guna menunjang pemenuhan gizi masyarakat, khususnya dalam pencegahan stunting. Selanjutnya, sisa dapur kembali masuk ke sistem pengolahan sampah.
“Sebetulnya masing-masing program sudah berjalan sendiri-sendiri. Tinggal kita buat pola integrasinya saja. Dari sampah ke urban farming, dari urban farming ke dapur sehat, lalu sampah dapur kembali diolah,” jelasnya.
Terkait pengelolaan sampah skala kota, Pemkot Bandung juga tengah menyiapkan pengiriman sampah ke pabrik Refuse Derived Fuel (RDF) yang berada di wilayah Jawa Barat, namun di luar Kota Bandung. RDF tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif oleh industri untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.
“Banyak pabrik besar, terutama yang menggunakan mesin uap, masih bergantung pada batu bara. Untuk menekan biaya dan emisi, mereka membangun fasilitas RDF. Ke sanalah sampah kita kirim,” ungkap Farjan.
Ia menambahkan, lokasi pabrik RDF tidak hanya satu, melainkan tersebar di beberapa titik. Saat ini, Pemerintah Kota Bandung masih melakukan pengecekan detail terkait titik-titik pengiriman sampah tersebut. *red





















