BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah sekaligus mendorong pariwisata berkelanjutan.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui program Berseka (Bersih di Kawasan Wisata) yang menyasar sektor pariwisata, terutama hotel, restoran, dan kafe.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, menyampaikan volume sampah di Jawa Barat saat ini mencapai sekitar 29.000 ton per hari. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menyumbang sekitar 1.200 hingga 1.800 ton per hari.
“Program Berseka kami dorong untuk memastikan kawasan wisata mampu mengelola sampahnya dengan baik. Dimulai dari sektor hotel, restoran, dan kafe, kemudian dapat diperluas hingga skala kota,” ujarnya saat rapat koordinasi di Kantor Disparbud Jawa Barat, Senin (16/03/2026).
Menurut Iendra, sejumlah destinasi wisata memiliki potensi besar untuk menerapkan pengelolaan sampah mandiri karena didukung area yang memadai. Salah satunya adalah Saung Angklung Udjo yang memungkinkan pengolahan sampah dilakukan langsung di lokasi.
Program ini juga mengusung nilai filosofi Sunda, yaitu ngarumat (merawat), ngaruat (menata dan membersihkan), serta ngajaga (menjaga secara berkelanjutan) sebagai landasan dalam membangun kesadaran pengelolaan sampah.
Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi lokasi, penyusunan panduan, sosialisasi, implementasi, hingga pengawasan. Sejumlah lokasi telah menjadi proyek percontohan, di antaranya Kampus PPN Cirebon dan Museum Sri Baduga.
Selain itu, pemerintah membuka peluang pembiayaan melalui berbagai skema Seperti Corporate Social Responsibility (CSR), kerja sama dengan sektor swasta, crowdfunding, hingga cost sharing bersama pemerintah daerah.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Bandung.
Saat ini sekitar 78 persen sampah masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara kemampuan pengolahan baru mencapai sekitar 22 persen.
“Dengan kondisi saat ini, timbulan sampah Kota Bandung mencapai sekitar 1.950 ton per hari. Pada periode tertentu seperti libur panjang atau Ramadhan, jumlahnya bisa meningkat hingga 15 persen,” ujar Farhan.
Sebagian besar sampah Bandung Raya masih dibuang ke TPA Sarimukti yang juga menampung sampah dari Kabupaten Bandung dan Cimahi. Namun kapasitasnya diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua tahun jika tidak ada pembatasan.
Untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, Pemkot Bandung menjalankan Program Gaslah yang melibatkan 1.596 petugas untuk memastikan sampah rumah tangga telah dipilah sejak awal.
Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah di tingkat kelurahan melalui berbagai metode, seperti maggot Black Soldier Fly, Lodong Sisa Dapur, hingga produksi pupuk cair dari fermentasi buah.
Pemkot Bandung juga mendorong pengelolaan sampah mandiri di kawasan komersial dan fasilitas publik, seperti pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hotel, kawasan wisata, hingga hunian vertikal.
Beberapa lokasi yang telah menerapkan sistem tersebut antara lain Hotel Mercure Supratman dan Paris Van Java Mall yang memiliki fasilitas pengolahan sampah mandiri.
Melalui berbagai program tersebut, Pemkot Bandung berharap pengurangan timbulan sampah dapat dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Upaya ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan kota yang lebih bersih sekaligus memperkuat sektor pariwisata berkelanjutan di Bandung. *red





















