Bandung, Journalbroadcast.co – Momentum Hari Bumi 2026 dengan tema “Our Power, Our Planet” menjadi pengingat kuat bahwa kondisi lingkungan global kian mengkhawatirkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia mencatat kenaikan suhu ekstrem, peningkatan frekuensi bencana alam, serta krisis lingkungan yang semakin nyata, termasuk di wilayah Jawa Barat.
Berdasarkan laporan World Meteorological Organization, tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global mendekati ambang 1,5 derajat Celsius di atas masa pra-industri.
Sementara itu, United Nations Environment Programme memperingatkan bahwa dunia masih berada pada jalur kenaikan suhu hingga sekitar 2,6 derajat Celsius apabila tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan dan perilaku lingkungan.
Dampak dari kondisi tersebut juga dirasakan di Jawa Barat, mulai dari banjir yang terjadi berulang, longsor di berbagai daerah, hingga persoalan sampah dan kerusakan hutan yang semakin kompleks.
Wakil Ketua Bapora PP Jawa Barat, Ridwan Ginanjar, menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam menghadapi krisis lingkungan yang terjadi saat ini.
Menurutnya, peran aktif generasi muda menjadi kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Ini bukan isu jauh. Ini soal hidup kita hari ini dan masa depan kita besok. Kalau kita diam, kita ikut membiarkan krisis ini membesar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Hari Bumi 2026 harus dimaknai sebagai momentum aksi nyata, bukan sekadar seremoni tahunan.
Pemuda, kata dia, memiliki kekuatan besar untuk menjadi penggerak perubahan, terutama melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Ridwan mengajak generasi muda untuk mulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, menanam pohon, hingga beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara kolektif di tengah masyarakat.
Selain itu, ia juga mendorong perubahan cara pandang terhadap persoalan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah.
Konsep daur ulang, ekonomi sirkular, hingga gerakan urban farming dinilai sebagai solusi konkret yang dapat diterapkan di tingkat komunitas.
“2026 harus jadi titik balik. Pemuda harus jadi penggerak, bukan pengikut. Kita punya kekuatan untuk menjaga bumi, dan itu harus dimulai sekarang,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Bumi 2026 ini, diharapkan kesadaran kolektif masyarakat, khususnya generasi muda di Jawa Barat, semakin meningkat untuk menjaga kelestarian lingkungan serta berkontribusi dalam mengatasi krisis global yang kian nyata. *

















