BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Kota Bandung meraih penghargaan kategori Green City Transformation pada ajang Anugerah PRMN 2025 yang digelar di Ballroom Harris Hotel & Conventions Festival Citylink Bandung, Jumat (05/12/2025).
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen Pemkot Bandung dalam menghadapi persoalan sampah – isu klasik yang selama bertahun-tahun membayangi kota-kota besar.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menerima penghargaan tersebut secara langsung. Dengan gaya santai dan humor khasnya, Farhan membuka pidato penerimaan anugerah.
“Saya itu termasuk orang yang jarang menerima anugerah. Terakhir saya terima tahun 2001. Selebihnya selalu tim yang dapat. Jadi ini cukup istimewa,” ujarnya yang langsung disambut tawa hadirin.
Di hadapan para tokoh media, perwakilan kementerian, dan tamu undangan, Farhan memaparkan fakta yang jarang terdengar publik.
Menurut data pemerintah pusat, timbulan sampah di Kota Bandung mencapai 1.492 ton per hari, sementara fasilitas pengolahan dan pengangkutan baru mampu menangani sekitar 981 ton.
“Artinya, sekitar 510 ton sampah tertinggal di dalam kota setiap hari. Itu fakta yang harus kita hadapi,” tegasnya.
Sejak Maret 2025, Pemkot Bandung mulai melakukan perbaikan besar pada sistem pengelolaan sampah. Hasilnya, kini sekitar 250 ton sampah dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan setiap hari. Meski begitu, masih ada 340 ton sampah yang belum tertangani secara optimal.
“Masalah ini bukan sprint, ini maraton,” kata Farhan.
Perkuat Petugas di Lapangan
Salah satu terobosan utama Pemkot Bandung adalah memperkuat personel kebersihan di tingkat akar rumput. Saat ini terdapat 870 penyapu jalan dan 1.800 petugas Gober di tingkat RW.
Mulai 2026, pemerintah berencana menambah 1.597 petugas pemilah sampah, satu orang di setiap RW. Mereka akan bertugas dari rumah ke rumah untuk memastikan warga memilah sampah organik dan non-organik.
“Akan ada yang datang ke rumah sambil bilang: ‘Punten bu, mana sampah organiknya? Yang non-organik tinggalin nanti ada yang ambil.’ Itu akan jadi kebiasaan baru di Bandung,” ujarnya.
Jika seluruh rencana berjalan, Bandung akan memiliki lebih dari 4.500 personel yang bekerja setiap hari menjaga kebersihan kota.
Bangun Insinerator & Teknologi Pengolahan Baru
Farhan menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada armada angkut dan TPA. Pemkot Bandung saat ini menyiapkan pembangunan 30 unit insinerator berkapasitas 10 ton, teknologi roller dryer organik, serta biodigester di pasar-pasar besar seperti Gedebage dan Sarijadi.
“Di Pasar Gedebage, setiap hari muncul 8 ton sampah, terutama dari pisang. Tapi sekarang jam 12 siang semua hilang habis diolah,” jelasnya.
Farhan juga menilai bahwa persoalan sampah bukan hanya menyangkut fisik, tetapi juga persepsi. “Bau sedikit, publik mengeluh. Maka komunikasi publik sama pentingnya dengan fasilitas pengolahan,” tambahnya.
Karena itu, ia mengajak PRMN dan media lain untuk turut serta menjadi bagian dari edukasi publik mengenai pengelolaan sampah. *red





















