JAKARTA, journalbroadcast.co — Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia yang dikembangkan melalui kemitraan antara Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma meraih penghargaan Social Infrastructure Deal of the Year, APAC dalam ajang IJGlobal Awards 2025, Kamis (30/04/2026).
Proyek yang dijalankan melalui perusahaan patungan PT SKPlasma Core Indonesia ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur kesehatan nasional, khususnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Produk Obat Derivat Plasma (PODP).
Penghargaan dari IJGlobal tersebut diberikan kepada proyek greenfield dan refinancing terbaik di sektor energi dan infrastruktur. Penilaian dilakukan oleh panel independen yang terdiri dari para profesional industri dengan mempertimbangkan aspek inovasi, dampak, serta kualitas eksekusi proyek.
Fasilitas yang saat ini tengah dibangun di Karawang, Jawa Barat, diharapkan menjadi tonggak penting dalam meningkatkan ketahanan sistem kesehatan Indonesia. Setelah beroperasi, fasilitas ini akan memungkinkan pengolahan plasma darah di dalam negeri menjadi produk terapi penting seperti imunoglobulin dan albumin.
Sejak diumumkan pada Desember 2024, proyek ini telah mencatat sejumlah kemajuan, termasuk pengembangan produk turunan plasma dari donor dalam negeri serta progres pembangunan fasilitas yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Dari sisi pembiayaan, proyek ini diperkuat dengan fasilitas pinjaman sindikasi senilai Rp3,7 triliun yang dipimpin oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk bersama PT Bank Mega Tbk.
Pelaksana Tugas Ketua Dewan Direktur INA, Eddy Porwanto, mengatakan penghargaan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi berkelanjutan dalam menjawab kebutuhan kesehatan jangka panjang.
“Proyek ini menunjukkan bagaimana kemitraan dapat menghadirkan solusi yang layak secara investasi sekaligus memperkuat layanan kesehatan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia, Hyunho (Ted) Roh, menilai proyek ini menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor obat berbasis plasma.
“Produksi dalam negeri akan meningkatkan akses dan kualitas hidup jutaan pasien, sekaligus menghadirkan terapi yang lebih aman dan terjangkau,” katanya.
Chief Wholesale dan Treasury Allo Bank, Yogi Bima Sakti, menambahkan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari komitmen memperkuat kedaulatan kesehatan nasional melalui pembiayaan infrastruktur sosial.
“Kolaborasi antara lembaga keuangan domestik, investor global, dan pemerintah menjadi kunci menghadirkan layanan kesehatan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Proyek ini menjadi contoh nyata pendekatan kolaboratif antara investasi institusional, keahlian global, dan dukungan perbankan nasional dalam memperkuat infrastruktur kesehatan Indonesia. ***





















