Bandung, Journalbroadcast.co – Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei kembali menjadi momentum refleksi bagi dunia kerja, khususnya di Provinsi Jawa Barat.
Di tengah pertumbuhan ekonomi dan pesatnya perkembangan industri, realita yang dihadapi para buruh, terutama generasi muda masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keadilan, kesejahteraan, hingga masa depan kerja itu sendiri.
Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia yang mencapai lebih dari 50 juta jiwa pada 2025, Jawa Barat menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus kantong tenaga kerja terbesar nasional.
Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan sekitar 24,4 juta penduduk usia kerja di Jawa Barat aktif bekerja, dengan mayoritas berstatus buruh atau karyawan di sektor formal.
Namun di balik besarnya angka tersebut, berbagai persoalan ketenagakerjaan masih membayangi. Salah satu isu yang paling sering dikeluhkan pekerja adalah soal upah yang dinilai belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri telah menetapkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2026 dengan rentang sekitar Rp2,35 juta hingga Rp5,99 juta per bulan. Kota Bekasi menjadi daerah dengan UMK tertinggi, sementara Kabupaten Pangandaran berada di posisi terendah.
Meski terjadi kenaikan upah dibanding tahun sebelumnya, kondisi tersebut dinilai belum cukup menjawab kebutuhan pekerja, terutama di wilayah perkotaan dengan biaya hidup tinggi.
Rata-rata upah per jam pekerja di Jawa Barat pun masih berada di kisaran Rp20 ribuan.
Selain persoalan upah, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) juga menjadi ancaman nyata bagi pekerja di Jawa Barat.
Sepanjang awal 2026, Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka PHK tertinggi di Indonesia, dengan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan dalam beberapa bulan pertama tahun ini.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.
Persaingan ketat, lapangan kerja terbatas, hingga tekanan ekonomi membuat banyak anak muda harus bekerja dalam situasi serba tidak pasti.
Tokoh muda Jawa Barat, Ridwan Ginanjar, menilai persoalan buruh hari ini tidak lagi bisa dianggap sebagai isu lama yang jauh dari anak muda.
Menurutnya, generasi muda justru menjadi kelompok paling rentan dalam sistem kerja modern saat ini.
“Banyak anak muda hari ini bekerja keras, tapi tetap merasa tidak cukup. Ini bukan semata soal malas atau tidak, tapi ada sistem yang memang belum sepenuhnya berpihak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fenomena hustle culture yang semakin populer di kalangan generasi muda.
Budaya kerja tanpa batas kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan, padahal di balik itu banyak pekerja yang mengalami kelelahan mental dan kehilangan keseimbangan hidup.
“Kita perlu jujur, apakah kita benar-benar bekerja untuk hidup, atau hanya bertahan hidup? Karena kalau kerja terus tapi tidak pernah merasa cukup, berarti ada yang tidak beres,” katanya.
Selain itu, berkembangnya gig economy seperti ojek online, pekerja lepas (freelance), hingga sistem kerja kontrak jangka pendek juga menjadi perhatian.
Fleksibilitas kerja memang dianggap menarik, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan perlindungan sosial dan kepastian penghasilan.
“Fleksibel itu bagus, tapi kalau tidak ada kepastian penghasilan dan jaminan sosial, itu bukan kebebasan itu kerentanan,” tegas Ridwan.
Meski begitu, ia menilai generasi muda masih memiliki harapan besar untuk mendorong perubahan.
Kesadaran terhadap isu ketenagakerjaan mulai tumbuh, terutama di kalangan anak muda yang kini lebih kritis dan berani menyuarakan kondisi yang mereka alami.
Menurutnya, perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau perusahaan semata.
Anak muda juga harus mulai memahami hak-haknya sebagai pekerja, membangun solidaritas, serta tidak takut menyampaikan aspirasi.
Hari Buruh 2026, lanjutnya, seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata.
Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi bersama tentang arti kerja layak, keadilan ekonomi, dan masa depan ketenagakerjaan Indonesia.
“Kerja itu bukan sekadar bertahan hidup. Tapi bagaimana kita bisa hidup dengan layak, punya harapan, dan tidak kehilangan diri sendiri,” tutupnya.
Di tengah kompleksitas dunia kerja saat ini, suara generasi muda menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh belum selesai.
Justru, di tangan merekalah arah masa depan ketenagakerjaan Indonesia akan banyak ditentukan.


















