journalbroadcast.co, Jakarta | Sutradara Archie Hekagery bersama rumah produksi Manara Films menghadirkan film Pasukan 1000 Janda, yang mengangkat kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee dari Aceh dalam balutan genre historical fantasy action.
Film tersebut mengikuti perjuangan Malahayati bersama pasukan perempuan Inong Balee yang berani melawan penjajah. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Trailer terbaru Pasukan 1000 Janda memperlihatkan pertempuran para perempuan bersenjatakan rencong dan ilmu bela diri menghadapi armada kapal perang Belanda yang dilengkapi meriam. Kisah tersebut membawa penonton ke gambaran Aceh pada masa lampau, termasuk pertempuran di atas kapal, di tengah ombak laut, serta pertarungan pedang.
Poster dan trailer film tersebut diluncurkan di Jakarta, Rabu (30/9/2026). Archie mengatakan film ini dibuat untuk menghadirkan kisah Laksamana Malahayati dalam bentuk film aksi yang tetap berpijak pada sejarah Indonesia.
“Lewat film Pasukan 1000 Janda, saya ingin membuat penonton merasakan bagaimana kalau kisah Laksamana Malahayati hadir sebagai sebuah action movie yang epik dan sinematik. Sejarah Indonesia memiliki cerita sebesar film action,” ujar Archie Hekagery.
Atiqah Hasiholan dipercaya memerankan Laksamana Malahayati. Sementara itu, pasukan Inong Balee diperankan antara lain oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Film ini juga dibintangi Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, serta Ron Smoorenburg.
Atiqah menilai sosok Malahayati dan Inong Balee masih relevan dengan kehidupan perempuan Indonesia saat ini, terutama mengenai keberanian memimpin, mengambil keputusan, dan menentukan kehidupan sendiri.
“400 tahun berlalu. Perempuan tetap punya alasan untuk berdiri dan memimpin. Malahayati adalah seorang laksamana, warrior, namun juga seorang perempuan, ibu, dan istri,” ujar Atiqah Hasiholan.
Tasha Siahaan yang memerankan Dahlia, salah satu anggota Inong Balee, mengatakan proses produksi film tersebut memberinya pengalaman baru, mulai dari mempelajari dialek Aceh, koreografi aksi, hingga sejarah perjuangan perempuan.
“Bagiku film Pasukan 1000 Janda sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sampai sekarang kita masih sering melihat banyak kelompok perempuan yang berani bersuara dan melawan saat tanah kelahiran dan tanah tinggalnya terancam,” ujar Tasha Siahaan.





















