Frustasi dengan Kebijakan Pemerintah, Satu Nelayan di Aceh Ajukan Permohonan Suntik Mati

0
51
Ilustrasi suntik. (iStock/Detik.com)

Bewarajabar.com – Satu nelayan di Aceh bernama Nazaruddin Razali (59) warga Desa Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe mengajukan permohonan suntik mati atau eutanasia ke pengadilan negeri.

Hal itu ia ajukan lantaran tak kuasa menerima kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Lhokseumawe terkait rencana relokasi keramba budidaya ikan di Waduk Pusong.

Diketahui, waduk tersebut merupakan tempat Nazaruddin mencari nafkah melalui budidaya ikan di keramba miliknya. Namun, ia pun mengaku menyerah dan memilih untuk mati jika pemerintah tetap melalukan relokasi tersebut.

 

“Jika pemerintah tidak peduli lagi kepada kami para petani keramba di Waduk Pusong, saya minta disuntik mati saja di depan Wali Kota Lhokseumawe beserta Muspika Banda Sakti,” kata Nazaruddin, Kamis 6 Januari 2022, dikuti dari CNN Indonesia, Jumat, 7 Januari 2022.

Nazaruddin Razali pun dikabarkam telah mendaftarkan permohonan suntik mati itu ke Pengadilan Negeri Lhokseumawe pada 6 Januari 2022. Permohonan itupun sudah terdaftar dengan nomor surat PNL LSM-01-2022-KWS.

Nazaruddin pun menjelaskan bahwa keputusan itu ia ambil lantaran pemerintah tak berpihak pada rakyatnya yang mengantungkan hidup pada waduk tersebut.

Jika itu semua terjadi, Nazaruddin pun mengaku tak sanggup melanjutkan hidup lantaran mata pencahariannya selama ini akan hilang.

“Saya harus menanggung beban untuk membiayai kehidupan istri dan tiga anak-anak serta dua cucu. Jika usaha keramba budidaya ikan digusur, bagaimana nasib kami. Makanya lebih baik saya disuntik mati saja,” kata Nazaruddin Razali.

Selain itu, Nazaruddin juga mengatakan bahwa belakangan ini dirinya mengalami kesulitan ekonomi. Hal itu terjadi usai Pemkot Lhokseumawe menyebar isu bahwa Air Waduk Pusong tercemar limbah.

Pasca isu tersebut merebak, banyak orang yang menjadi takut untuk membeli ikan hasil budidiaya nelayan keramba di Waduk Pusong.

“Katanya air waduk mengandung limbah. Padahal, kami sudah puluhan tahun makan ikan budi daya di waduk dan juga setiap hari mandi, tapi tidak mengalami masalah kesehatan,” papar Nazaruddin.

Nazaruddin juga mengatakan bahwa belakangan ini dia juga selalu merasa tertekan dan ketakutan. Pasalnya, ia selalu didatangi pihak kecamatan untuk mengosongkan lokasi budidaya keramba di waduk tersebut.

“Saya sangat trauma, karena setiap hari ada aparat yang datang. Kejadian ini mengingatkan saya seperti masa konflik masa lalu. Kami berharap penggusuran ini segera dibatalkan karena ini menyangkut dengan penghidupan kami,” pungkas Nazaruddin Razali.

Editor: Rian Andrian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here