Kang Empos Jadi Media Andalan Pengelolaan Sampah di Kelurahan Samoja

0
3

BANDUNG, journalbroadcast.co -||- Karung, Ember dan Pengomposan (Kang Empos) masih menjadi metode andalan untuk pengelolaan sampah di Kota Bandung, khususnya di Kelurahan Samoja Kecamatan Batununggal.

Dengan jumlah masyarakat sekitar 12.200 jiwa atau 3.612 Kepala Keluarga, Kelurahan Samoja menjadikan Kang Empos sebagai metode garda terdepan pengelolaan sampah.

“Kang Empos simpel, efektif, efisien dan murah pelaksanaannya. Tidak memerlukan biaya besar,” kata Lurah Samoja, Murni Hidayah Nasution, pada kegiatan Podcast Bersama Humas Bandung, di Kantor Kelurahan Samoja, Senin 19 Februari 2024.

Ia menuturkan, wilayahnya telah lama menerapkan Kang Empos. Meskipun secara perlahan, 11 RW di seluruh wilayah Samoja telah melaksanakan Kang Empos.

“Sebelumnya kami sudah sosialisasi, sebelum digaungkan oleh dinas. Kami perlahan menyosialisasikan ini ke tiap RW, LPM dan LKK. Kita lakukan mandiri dan bertahap,” ujar Murni.

Sebagai penerapan, Murni memberikan tutoial yaitu dengan praktek langsung maupun di tempat sosialisasi.

“Caranya sesuai dengan tutorial, kami juga prioritaskan bagi kader Posyandu. Ada pelatihannya, kita langsung turun ke lapangan,” tuturnya.

Sementara itu, di Kelurahan Samoja mendapatkan Kang Empos sebanyak 916 buah dibagikan kepada tiap Kepala Keluarga (KK).

“Bantuan itu kalau di Kelurahan Samoja 20 persen dari jumlah KK, jadi kita diberikan sebanyak 916 KK untuk Kang Empos,” ujarnya.

Selain Kang Empos, di wilayah tersebut pun sudah menerapkan Loseda (Lodong Sesa Dapur) hingga Rumah Maggot.

“Kita ada sistem tabung atau drum, Loseda, Kang Empos dan Rumah Maggot. Ini lagi proses baby maggot-nya. Alhamdulillah dengan adanya Rumah Maggot juga bisa mengurangi sampah,” ungkapnya.

Murni mengungkapkan, pemilahan sampah di tingkat RW sudah dilakukan, meskipun secara bertahap.

Berdasarkan data 9 Februari, Murni menyebut, 11 RW sudah melakukan pemilahan. Terdapat 616 KK yang sudah memilah. Jumlah sampah yang terpilah itu 492,1 kg (organik), 194,25 kg (anorganik) dan 86, 53 kg (residu).

Ia berpesan kepada masyarakat untuk mengelola sampah yaitu butuh kesadaran untuk meningkatkan kebersihan, agar kenyamanan semakin baik.

“Buanglah sampah pada tempatnya, ditambah dengan secara terpilah. Ini saya gaungkan terus agar warga Bandung bebas sampah dan bisa hidup nyaman,” pungkasnya.  *red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here