BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Kota Bandung mempercepat penataan infrastruktur jalan dan utilitas guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan persoalan galian utilitas yang tidak tertata menjadi salah satu fokus utama yang harus segera diselesaikan.
Ia mengaku telah memberikan peringatan tegas kepada Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) sebagai pihak yang banyak melakukan pekerjaan jaringan utilitas di Kota Bandung.
“Saya sudah memberikan peringatan, ini sudah sampai SP2. Kalau nanti SP3 keluar dan masih tidak ditindaklanjuti, kita tidak akan ragu mengambil langkah tegas,” ujarnya di Teras Sunda Cibiru, Sabtu (25/04/2026).
Farhan menyebut, langkah tegas tersebut termasuk kemungkinan pemutusan jaringan utilitas yang tidak memenuhi kewajiban perbaikan pascagalian. Kebijakan ini diambil untuk memberikan efek jera sekaligus melindungi kepentingan publik.
Selama ini, galian utilitas kerap dikeluhkan masyarakat karena meninggalkan kondisi jalan rusak, berlubang, dan berisiko bagi pengguna jalan, terutama pengendara roda dua, pejalan kaki, dan pesepeda.
“Ini bukan hanya soal estetika kota, tapi menyangkut keselamatan. Kalau dibiarkan, risikonya besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Menurut Farhan, keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak hanya diukur dari kecepatan dan kualitas fisik, tetapi juga dari tingkat keamanan bagi seluruh pengguna jalan. Kelompok rentan seperti pejalan kaki dan pesepeda harus menjadi tolok ukur utama.
“Kalau pejalan kaki dan pesepeda sudah merasa aman, itu baru bisa kita sebut berhasil,” katanya.
Saat ini, Pemkot Bandung melakukan penataan jalan secara bertahap, termasuk memastikan seluruh bekas galian ditutup sesuai standar teknis agar tidak menimbulkan potensi bahaya.
Pengawasan juga dilakukan secara intensif dan harian dengan melibatkan perangkat daerah terkait serta koordinasi lintas sektor, guna memastikan setiap pekerjaan utilitas berjalan sesuai aturan.
Selain penertiban galian, Pemkot Bandung juga terus melakukan perbaikan jalan di berbagai titik prioritas, khususnya pada ruas dengan tingkat kerusakan tinggi dan mobilitas padat.
Farhan menegaskan, pendekatan yang dilakukan tidak hanya reaktif terhadap kerusakan, tetapi juga preventif untuk menjaga kualitas infrastruktur dalam jangka panjang.
“Yang kita kejar bukan hanya cepat selesai, tapi juga kualitasnya bertahan lama dan aman digunakan,” ujarnya. *red





















