BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan komitmennya untuk membangun Kota Bandung secara adil dan menyeluruh, dimulai dari pemukiman warga hingga menjangkau wilayah-wilayah terdalam kota.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri Silaturahmi Bulanan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, Kamis (08/01/2026).
Menurut Farhan, Kota Bandung memiliki keragaman yang sangat tinggi, baik dari sisi budaya, sosial, maupun kondisi geografis wilayah. Karena itu, pendekatan pembangunan tidak bisa dilakukan secara seragam atau hanya berfokus pada kawasan-kawasan yang terlihat indah di permukaan.
“Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk masuk ke banyak wilayah di Kota Bandung, sampai ke titik-titik terdalam. Tapi saya sadar belum semuanya terjangkau. Masih banyak wilayah yang harus saya datangi,” ujar Farhan.
Untuk memastikan kehadiran pemerintah dirasakan langsung oleh masyarakat, Farhan bersama jajaran Pemkot Bandung menjalankan Program Siskamling Siaga Bencana. Program tersebut telah berjalan sejak 22 September 2025 dan hingga kini menjangkau 68 kelurahan dari total 151 kelurahan di Kota Bandung.
“Target saya, paling lambat Maret seluruh 151 kelurahan sudah dikunjungi. Tapi ini bukan berarti selesai. Setelah itu akan diulang lagi dari kelurahan pertama. Ini akan terus berputar,” jelasnya.
Farhan mengungkapkan, setiap harinya sekitar setengah dari waktu kerjanya dihabiskan untuk turun langsung ke wilayah – wilayah. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat dan memahami persoalan masyarakat secara langsung tanpa sekat.
Ia pun menanggapi kritik yang menyebut dirinya terlalu sering berkeliling dan mempertanyakan pembangunan infrastruktur besar, seperti jalan protokol.
“Pembangunan jalan pasti dilaksanakan. Tapi rasanya tidak adil kalau Jalan Ir. H. Djuanda dipercantik demi tampilan Instagram atau TikTok, sementara di Cigadung masih ada jalan yang belum diaspal, di Sekeloa rawan longsor, atau di Cigending masih banyak bangunan liar,” ungkapnya.
Karena itu, Farhan mengaku sengaja mengubah strategi pembangunan. Jika sebelumnya pembangunan dimulai dari “tulang punggung kota” yang hasilnya langsung terlihat, kini ia memilih membenahi pemukiman warga terlebih dahulu.
“Saya ingin wilayah-wilayah pemukiman dibikin bagus dulu. Jadi ketika nanti kita memoles kota ini, kita bukan sedang menutupi kebohongan, tapi memang mempercantik sesuatu yang sudah rapi di dalam,” ujarnya.
Farhan menegaskan, pembangunan Kota Bandung tidak semata mengejar simbol-simbol keindahan. Menurutnya, kota yang kuat adalah kota yang warganya aman, nyaman, dan tidak lagi hidup dalam kerentanan bencana.
“Simbol-simbol indah itu akan ada. Tapi fondasinya harus beres dulu, dan itu yang sedang kami kerjakan sekarang,” tuturnya. *red





















