BANDUNG, journalbroadcast.co — Berawal dari hobi memodifikasi pakaian bekas untuk kebutuhan pribadi, Belyanza kini menjelma menjadi salah satu brand modest fashion asal Kota Bandung yang sukses menembus pasar internasional. Perjalanan panjang selama lebih dari satu dekade mengantarkan Belyanza tampil di Mega Halal Bangkok 2026, ajang pameran produk halal internasional yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli dari berbagai negara.
Di tengah pesatnya pertumbuhan industri modest fashion, Belyanza memilih membangun identitasnya sendiri. Brand yang resmi berdiri pada awal 2013 itu lahir dari perjalanan hidup pendirinya, Nita Belliani Burhan, yang juga menjabat sebagai CEO sekaligus desainer.
“Sebetulnya Belyanza mulai saya rintis dari 2011, meski saat itu masih menggunakan nama yang berbeda. Nama Belyanza resmi berdiri pada awal 2013,” ujar Nita kepada Humas Kota Bandung, Rabu (22/07/2026).
Sebelum terjun ke dunia fesyen, Nita dikenal sebagai penyanyi. Saat memutuskan berhijrah, ia kesulitan menemukan busana muslim yang sesuai dengan karakter berpakaiannya.
Awalnya, ia menjual kembali pakaian dari pusat grosir seperti Tanah Abang dan Thamrin City. Namun, untuk dirinya sendiri, ia justru lebih sering membeli pakaian thrift yang kemudian dimodifikasi sesuai selera.
“Saya membeli baju-baju thrift, lalu saya gunting, saya ubah, saya mix and match sesuai gaya saya. Ternyata pelanggan lebih suka baju yang saya pakai dibandingkan baju yang saya jual,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mendorong Nita membangun merek sendiri. Ia kemudian mempelajari teknik membuat pola, memotong kain, hingga menjahit secara mandiri sebelum akhirnya memiliki konveksi sendiri.
Mencari DNA Brand
Menurut Nita, tantangan terbesar bukan sekadar membuat pakaian, tetapi menemukan identitas yang membedakan Belyanza dari brand lain.
“Pencarian jati diri memang tidak mudah. Kami mengikuti tren, tetapi juga harus menemukan karakter yang berbeda agar bisa bertahan. Pada akhirnya saya kembali menjadi diri sendiri. Saya menyadari bahwa rezeki saya adalah menjadi diri sendiri,” katanya.
Karakter tersebut kemudian diterjemahkan dalam desain yang lebih modern, aktif, dan berani. Berbeda dengan banyak brand modest fashion yang identik dengan motif bunga atau polkadot, Belyanza mengusung konsep bagi perempuan aktif yang kuat dan percaya diri.
“Saya bukan perempuan yang terlalu feminin. Saya tidak terlalu suka bunga atau polkadot. Karena itu saya ingin mewadahi perempuan aktif, perempuan yang kuat dan punya karakter,” jelasnya.
Identitas itu diperkuat melalui penggunaan detail bordir dan sulam yang diaplikasikan pada koleksi street style, active wear, hingga busana serbaguna untuk berbagai aktivitas.
Bangkit dari Pandemi Covid-19
Perjalanan Belyanza kembali diuji ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, Belyanza telah memiliki sekitar 16 gerai di berbagai daerah di Indonesia. Menjelang Lebaran, perusahaan telah menyiapkan bahan baku dalam jumlah besar dengan nilai hampir Rp1 miliar. Namun, pandemi membuat permintaan pasar berhenti mendadak sehingga stok berubah menjadi dead stock.
“Tantangan paling berat tentu saat pandemi. Kami sudah membeli bahan dalam jumlah besar, tetapi permintaan langsung berhenti. Saat itu kami harus berpikir bagaimana usaha ini tetap hidup dan semua SDM tetap bisa bekerja,” ujarnya.
Untuk bertahan, Belyanza beralih memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) berdasarkan masukan dari mertua Nita yang berprofesi sebagai dokter. Langkah tersebut membuat seluruh penjahit dan karyawan tetap memiliki pekerjaan.
Selain itu, perusahaan juga sempat mengembangkan produk makanan sehat yang kemudian memperluas perspektif mereka mengenai pentingnya gaya hidup sehat.
“Pandemi memaksa kami menjadi lebih kreatif. Sekarang kami tidak hanya memikirkan desain, tetapi juga bagaimana pakaian bisa mendukung gaya hidup masyarakat yang semakin aktif,” tutur Nita.
Mengadopsi Teknologi AI
Semangat berinovasi terus berlanjut. Pada 2024, Nita mulai mempelajari teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dari mentor asal Rusia.
AI dimanfaatkan untuk membantu proses visualisasi desain dan pengembangan konten sehingga ide-ide kreatif dapat diwujudkan lebih cepat dan menarik.
Teknologi tersebut salah satunya diterapkan pada koleksi Whisper of the Sea yang ditampilkan dalam Jakarta Muslim Fashion Week 2024, dengan mengangkat tema ketenangan perempuan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Go Internasional Lewat Mega Halal Bangkok 2026
Sejak 2023, Belyanza aktif mengikuti pembinaan dan kurasi yang diselenggarakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung. Program tersebut membantu perusahaan memahami kebutuhan pasar global sekaligus meningkatkan kualitas produknya.
Hasilnya, Belyanza terpilih menjadi salah satu UMKM Kota Bandung yang mewakili Indonesia pada Mega Halal Bangkok 2026.
Dalam pameran tersebut, Belyanza menampilkan berbagai produk seperti hijab, outerwear, hingga active wear. Produk hijab menjadi yang paling diminati, disusul outerwear dan pakaian olahraga.
“Yang paling saya syukuri bukan hanya produknya disukai, tetapi ada buyer yang ingin melanjutkan pembicaraan untuk kerja sama. Selain itu, kepercayaan terhadap brand juga meningkat karena kami dianggap mampu memenuhi standar kualitas untuk tampil di pameran internasional,” ungkap Nita.
Bagi Nita, keikutsertaan di Bangkok bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal memperkenalkan modest fashion asal Kota Bandung ke pasar dunia.
Ia meyakini setiap UMKM memiliki peluang yang sama untuk berkembang selama mampu menemukan karakter yang kuat dan terus beradaptasi dengan perubahan.
“Produk tidak cukup hanya disukai, tetapi juga harus menjadi kebutuhan. Ketika menjadi kebutuhan, pelanggan akan kembali membeli. Karena itu UMKM harus terus belajar, terus beradaptasi, dan berani menemukan DNA-nya sendiri,” tuturnya. *red





















