BANDUNG, journalbroadcast.co — Kekalahan Inggris dari Argentina tak hanya mengakhiri pertandingan malam itu, tetapi juga memupus harapan Fazar untuk lolos dari konsekuensi sebuah taruhan.
Sesuai kesepakatan yang telah dibuat, Fazar harus menepati janjinya. Dengan langkah pelan dan senyum yang dipaksakan, ia mendatangi sebuah grosir di dekat rumah untuk membeli berbagai merek rokok.
Satu per satu rokok dimasukkan ke dalam keranjang, mulai dari dua slop Sampoerna Mild, Marlboro, Esse Change, hingga Onta.
Melihat jumlah belanjaan yang tak biasa, pemilik grosir tampak kebingungan. Belum selesai menghitung, seorang pemilik warung yang berada di sampingnya ikut bertanya.
“Pak… mau buka warung rokok, ya?”
Mendengar pertanyaan itu, Fazar hanya menarik napas panjang. Sambil tersenyum pahit, ia menjawab,
“Henteu, Kang… ieu mah akibat kalah taruhan bola. Janji harus ditepati.”
Jawaban tersebut sontak mengundang gelak tawa orang-orang di sekitar. Sementara itu, Fazar hanya bisa mengusap dada seraya berujar,
“Subhanallah… ternyata yang paling berat dalam sepak bola bukan 90 menit pertandingannya, tapi menepati konsekuensi setelah kalah.” ***





















