BANDUNG, journalbroadcast.co — Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung, Radea Respati Paramudhita, mengapresiasi kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kelompok Cabang Keilmuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama bertema “Ecopreneurship Berbasis Daur Ulang Limbah Plastik Rumah Tangga sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Warga Binaan” di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Selasa (18/08/2026).
Radea menilai kegiatan tersebut menjadi langkah konkret dalam meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi warga binaan, khususnya perempuan, melalui pemanfaatan limbah plastik rumah tangga menjadi produk bernilai guna sekaligus bernilai ekonomi.
Menurutnya, pemberdayaan warga binaan tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan teknis. Dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan proses pelatihan, pengembangan produk, hingga pemasaran agar hasil karya warga binaan dapat memberikan manfaat ekonomi secara nyata.
“Kita tentu sangat mengapresiasi kegiatan ini. Yang diberikan bukan hanya ilmu dan keterampilan, tetapi bagaimana warga binaan dapat melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Radea.
Ia menjelaskan, konsep ecopreneurship memiliki manfaat ganda. Selain membantu mengurangi timbulan sampah, khususnya limbah plastik rumah tangga, konsep tersebut juga membuka peluang ekonomi melalui kreativitas dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai jual.
Radea menilai pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga pemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi lintas sektor diperlukan agar program pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang.
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Setelah diberikan pelatihan dan menghasilkan produk, harus ada pendampingan berikutnya, termasuk bagaimana produk tersebut dikembangkan, dipromosikan, dan mendapatkan akses pasar,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Radea menilai Pemerintah Kota Bandung dapat mengambil peran sebagai fasilitator, khususnya dalam membuka akses pemasaran bagi produk hasil karya warga binaan.
Pemerintah daerah, lanjutnya, dapat mempertemukan produk-produk tersebut dengan berbagai kanal pemasaran, pelaku UMKM, maupun ruang promosi yang tersedia.
Selain aspek ekonomi, kegiatan PKM tersebut juga memiliki dimensi lingkungan yang kuat. Pemanfaatan limbah plastik rumah tangga diharapkan dapat membantu mengurangi timbulan sampah sekaligus memberikan nilai tambah melalui pengolahan menjadi produk kreatif.
Dari sisi ekonomi, peningkatan kualitas produk dan perluasan akses pemasaran diharapkan dapat memberikan motivasi sekaligus bekal bagi warga binaan untuk membangun kemandirian setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Radea menegaskan, keberhasilan program pemberdayaan warga binaan tidak semata-mata diukur dari jumlah produk yang dihasilkan. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari meningkatnya keterampilan, tumbuhnya kepercayaan diri, serta kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Ia berharap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Widyatama dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Menurut Radea, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mentransformasikan pengetahuan, kreativitas, dan inovasi menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk bagi warga binaan. *red





















