BANDUNG, journalbroadcast.co — Pemerintah Kota Bandung membuka peluang investasi hijau melalui pengembangan sejumlah sektor strategis dalam kerangka climate investment. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Kota Bandung.
Hal itu disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menerima laporan Climate Investment Opportunities Diagnostic (CIOD) yang disusun International Finance Corporation (IFC) melalui program APEX Green Cities, di Ruang Tengah Balai Kota Bandung, Jumat (28/08/2026).
Farhan mengatakan, kerja sama Pemkot Bandung dengan berbagai mitra internasional terus berkembang, termasuk dalam membuka peluang investasi di sektor iklim.
“Kerja sama kita sekarang ini sudah makin meningkat dan makin beragam. Tentunya, dalam hal peluang untuk berinvestasi dalam kerangka climate investment, ini menambah kesempatan Kota Bandung untuk menjadi salah satu kota tujuan investasi kelas dunia,” kata Farhan.
Menurut Farhan, sejumlah sektor yang berpotensi dikembangkan melalui investasi hijau antara lain pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau dan biru, serta peningkatan kualitas air baku dan air tanah.
Ia mengatakan, pengelolaan lingkungan menjadi semakin penting seiring pertumbuhan dan kepadatan penduduk Kota Bandung. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kualitas udara.
“Kami juga menghadapi tantangan dengan semakin padatnya penduduk di Kota Bandung. Pada saat yang sama kami mengalami masalah dengan kualitas udara di Kota Bandung yang dianggap sekarang ini sebagai salah satu yang terburuk di Indonesia,” ujarnya.
Farhan menilai persoalan kualitas udara perlu dilihat secara lebih menyeluruh dan tidak semata-mata dikaitkan dengan keberadaan industri besar.
Selain kualitas udara, Pemkot Bandung juga membuka peluang investasi untuk meningkatkan kualitas air baku dan air tanah. Saat ini, kebutuhan air bersih Kota Bandung masih bergantung pada pasokan air baku dari luar wilayah.
“Kami juga mengundang climate investment ini untuk menyentuh kualitas air baku di Kota Bandung. Sampai saat ini untuk distribusi air bersih Kota Bandung, kami masih harus membeli air baku dari wilayah di luar Kota Bandung,” ucapnya.
Ia berharap investasi di sektor air dapat meningkatkan kualitas air baku dan air tanah sehingga dalam jangka panjang mendukung penyediaan air yang aman untuk dikonsumsi.
“Apabila memang ada peluang bagi climate investment meningkatkan kualitas air baku di Kota Bandung dan air tanah di Kota Bandung, maka cita-cita kami untuk memproduksi air keran yang bisa diminum paling tidak di hotel-hotel berbintang di Kota Bandung akan memberikan nilai tambah yang luar biasa,” jelasnya.
Inggris Dukung Implementasi
Dukungan terhadap penguatan investasi hijau di Kota Bandung juga disampaikan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey. Ia mengapresiasi kolaborasi antara Pemkot Bandung, Pemerintah Inggris, dan IFC dalam penyusunan Bandung Climate Investment Opportunities Diagnostic Report.
Kajian tersebut memetakan prioritas ketahanan iklim sekaligus peluang investasi hijau berdasarkan data Kota Bandung.
Jermey mengatakan, Pemerintah Inggris melalui Department for Energy Security and Net Zero mendukung penyusunan kajian tersebut. Menurutnya, tahap selanjutnya adalah memastikan rekomendasi yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi program dan investasi.
“Laporan ini merupakan bagian dari upaya transformasi untuk masa depan. Laporan ini menyajikan analisis berbasis data mengenai prioritas ketahanan iklim Kota Bandung sekaligus mengidentifikasi berbagai peluang investasi hijau di Kota Bandung,” ujar Jermey.
Ia menyebut kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk kemitraan strategis Indonesia dan Inggris, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi berkelanjutan, transisi menuju net zero, dan aksi iklim.
Jermey juga menyoroti sejumlah tantangan Bandung, mulai dari polusi dan kualitas udara, pengelolaan air, pengembangan pariwisata dan investasi hingga transformasi pengelolaan sampah menjadi energi.
Menurutnya, Inggris memiliki pengalaman dalam menangani tantangan serupa di sejumlah kota, termasuk London, Oxford, dan Glasgow. Pemerintah Inggris pun siap mendukung Bandung memasuki tahap implementasi rekomendasi kajian.
“Kami sangat senang dapat mendukung perjalanan Kota Bandung pada tahap ini. Kami juga berharap dapat terus bermitra dengan Pemerintah Kota Bandung dalam proses implementasi hasil laporan ini,” katanya.
28 Langkah Aksi Iklim
Sementara itu, IFC Country Manager Euan Marshall memaparkan hasil CIOD yang disusun dalam kerangka APEX Green Cities Program.
Menurut Euan, Bandung menjadi salah satu dari 30 kota di dunia yang tergabung dalam jaringan program tersebut. Program ini mendorong kota untuk mengidentifikasi dan mengembangkan investasi pada aksi iklim yang memiliki dampak besar.
“Secara khusus terkait Climate Investment Opportunities Diagnostic terdapat 28 langkah atau kebijakan berdampak tinggi yang telah diidentifikasi. Jika seluruh langkah tersebut diterapkan secara tepat, emisi gas rumah kaca Kota Bandung diperkirakan dapat dikurangi hingga 22 persen pada 2035,” ujar Euan.
Dari 28 langkah tersebut, sekitar delapan langkah utama diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 90 persen potensi pengurangan emisi.
Sektor yang menjadi perhatian antara lain pembangunan dan pengembangan gedung hijau, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sampah, transportasi publik, serta pengelolaan air.
Euan mengatakan pengelolaan sampah melalui pemilahan, pengumpulan, dan pengolahan yang tepat menjadi salah satu langkah berdampak tinggi dalam menekan emisi gas rumah kaca.
IFC juga melihat peluang pembiayaan melalui keterlibatan sektor swasta, termasuk skema kerja sama pemerintah dan badan usaha atau public-private partnership (PPP), untuk mendukung layanan perkotaan sekaligus mengurangi beban pembiayaan publik.
Sejumlah peluang yang dapat dikembangkan antara lain penguatan sistem Bus Rapid Transit (BRT), program waste to energy, fasilitas park and ride, serta penerapan low emission zone di kawasan inti cagar budaya.
Pengembangan bangunan publik yang hijau dan tangguh juga menjadi salah satu peluang investasi yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.
Euan mengatakan IFC terbuka untuk terus mendukung Pemkot Bandung dan para mitra dari sektor publik maupun swasta dalam merealisasikan peluang tersebut.
Dengan target 2035 yang semakin dekat, ia mendorong Kota Bandung mulai mengambil langkah implementasi sejak sekarang.
“Tahun 2035 lebih dekat daripada yang kita bayangkan sehingga target tersebut memang sangat ambisius. Namun, kita juga harus berani memikirkan sesuatu yang besar agar dapat mulai melakukan langkah-langkah yang memiliki dampak besar pula,” tuturnya. *red





















