BANDUNG, journalbroadcast.co — Wawasan kebangsaan tidak sekadar memahami sejarah dan nilai-nilai Pancasila, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga lingkungan, bergotong royong, disiplin, serta peduli terhadap sesama menjadi bagian dari karakter kebangsaan yang perlu ditanamkan sejak dini.
Hal tersebut dibahas dalam SONATA Talkshow bertema “Menanamkan Wawasan Kebangsaan, Membentuk Karakter Generasi Muda Bandung” yang disiarkan melalui live streaming Radio Sonata, Selasa (08/09/2025). Talkshow tersebut menghadirkan Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Bakesbangpol Kota Bandung, Aswin Sulaeman Utama.
Aswin mengatakan, pembinaan wawasan kebangsaan perlu dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan perkembangan zaman, terutama untuk menjangkau generasi muda.
Menurutnya, media sosial seperti Instagram dan TikTok dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kebangsaan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
“Kita masuk di Instagram, TikTok, ataupun melebur dengan apa yang mereka inginkan. Kita berbicara di sisi persahabatan dengan anak-anak sendiri,” ujar Aswin.
Selain melalui media sosial, pembinaan wawasan kebangsaan dilakukan secara langsung melalui kunjungan ke sekolah tingkat SMP dan SMA. Menurut Aswin, nilai-nilai kebangsaan perlu dikenalkan melalui hal-hal konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan, bela negara tidak selalu berkaitan dengan aktivitas militer. Menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan juga merupakan bentuk kecintaan terhadap negara.
“Bela negara itu bukan hanya militer. Contoh paling sederhana, orang yang membuang sampah sembarangan itu orang yang tidak sadar diri. Kalau kamu mencintai negara kamu, jangan kamu kotori seperti itu,” tuturnya.
Pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dalam pembinaan Paskibraka. Aswin menjelaskan, pembinaan Paskibraka tidak hanya berfokus pada kemampuan baris-berbaris, tetapi mencakup tiga aspek utama, yakni karakter, adab, dan fisik.
Proses tersebut dimulai sejak tahap seleksi. Calon peserta terlebih dahulu mengikuti penyaringan di sekolah sebelum menjalani seleksi lanjutan oleh Bakesbangpol Kota Bandung. Selain kemampuan, aspek sifat, sikap, dan akhlak turut menjadi perhatian dalam proses seleksi.
Setelah terpilih, peserta Paskibraka mendapatkan pembinaan berkelanjutan dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan Pemerintah Kota Bandung maupun kegiatan kewilayahan. Pembinaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan, kekompakan, tanggung jawab, serta rasa bangga sebagai bagian dari generasi muda Indonesia.
“Kebangsaan itu dapat dimulai dari bagaimana sikap peduli dengan lingkungan, mau bergotong royong dengan saudara-saudaranya, dan mau menunjukkan diri sebagai pribadi yang menjaga tanah airnya,” jelas Aswin.
Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya dari luar, Aswin menilai generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan menggunakannya secara bijak.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan identitas dan rasa bangga terhadap Indonesia.
Salah satu upaya Bakesbangpol Kota Bandung dalam memperkuat nilai tersebut dilakukan melalui Kemah Pancasila. Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang mendorong interaksi, kekompakan, serta penanaman nilai-nilai Pancasila dan kecintaan terhadap Tanah Air.
“Pembinaan wawasan kebangsaan pun tidak terbatas pada pelajar atau Paskibraka. Bakesbangpol juga melakukan pendekatan kepada masyarakat umum dengan metode yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing kelompok,” ungkapnya.
Menurut Aswin, jiwa kebangsaan pada akhirnya perlu terlihat dalam perilaku sehari-hari. Rasa bangga terhadap Indonesia tidak cukup hanya ditunjukkan saat upacara atau peringatan hari besar nasional, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan, gotong royong, menghormati sesama, menjaga ketertiban, disiplin, dan bertanggung jawab.
Melalui berbagai program tersebut, Bakesbangpol Kota Bandung terus mendorong agar wawasan kebangsaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. *red





















