journalbroadcast.co, Jakarta | Film Beautiful Pain mengangkat persoalan kekerasan seksual, rumah tangga toksik, stigma perceraian, hingga perjuangan ibu tunggal merebut kembali harga dirinya. Isu tersebut menjadi sorotan dalam gala premiere film produksi Dapur Film yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis 15/10.
Film yang disutradarai Dmaz Brodjonegoro dengan produser Hanung Bramantyo dan Executive Producer Nikita Mirzani ini menghadirkan kisah perempuan yang berjuang keluar dari hubungan tidak sehat, menghadapi pelecehan seksual, serta melawan stigma masyarakat setelah perceraian.
Cerita berpusat pada Niken (Raihaanun), seorang ibu yang memutuskan meninggalkan rumah tangga toksik bersama Dirga (Baim Wong) demi menjaga kesehatan mental dan masa depan kedua anaknya. Setelah kembali ke rumah ibunya dan memulai hidup dari nol, Niken menghadapi persoalan baru ketika berjuang mencari nafkah dan mempertahankan hak asuh anak.
Alih-alih mendapatkan dukungan, Niken justru menghadapi pelecehan seksual, fitnah, serta sikap lingkungan yang meragukan dirinya. Situasi tersebut mendorongnya untuk berani bersuara dan melawan stigma demi mempertahankan martabat serta hak anak-anaknya.
Aktris Raihaanun menilai perjalanan Niken menggambarkan beratnya perjuangan perempuan untuk bangkit dari pengalaman traumatis.
“ Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan,” ujar Raihaanun.
Sementara itu, Dmaz Brodjonegoro mengatakan film ini dibuat bukan hanya untuk memberikan hiburan, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan yang kerap dibungkam di masyarakat.
“Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita,” kata Dmaz.
Produser Hanung Bramantyo turut menyoroti visi kemanusiaan yang dibawa Dmaz dalam menggarap film tersebut. Menurut Hanung, perspektif sutradara menjadi bagian penting dalam menyampaikan isu sensitif melalui sinema.
“Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titin Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut,” ungkap Hanung.
Adapun Nikita Mirzani mengatakan bahwa cerita dalam film tersebut tidak terbatas pada pengalaman satu orang, melainkan berupaya merepresentasikan perjuangan perempuan secara lebih luas.
“Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan,” ujar Nikita.
Film ini juga menjadi debut penyutradaraan layar lebar bagi Dmaz Brodjonegoro. Ia mengembangkan cerita bersama penulis skenario Titien Wattimena, dengan Raihaanun, Baim Wong, Tarra Budiman, Anantya Kirana, Evano Zyan, Jajang C. Noer, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Berlliana Lovel, dan Anastasia Herzigova sebagai jajaran pemeran.
Mengusung pesan Fight the Trauma, Beautiful Pain film ini membawa isu kekerasan seksual, tekanan sosial terhadap perempuan yang bercerai, dan perjuangan membangun kembali kehidupan sebagai bagian dari percakapan publik yang lebih luas.




















