BANDUNG, journalbroadcast.co — Kebakaran masih menjadi ancaman serius di lingkungan permukiman Kota Bandung. Namun di balik setiap peristiwa kebakaran, masih banyak masyarakat yang terlambat melakukan pencegahan maupun pelaporan dini.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kota Bandung, Adhli Al-Afwan Izwar, dalam Sonanta Talkshow berkolaborasi dengan PR FM bertajuk “Pencegahan Kebakaran Dimulai dari Kesadaran dan Kesiapsiagaan Masyarakat”, Selasa (26/05/2026).
Menurut Adhli, masyarakat memegang peran penting dalam upaya pencegahan kebakaran. Pasalnya, lebih dari 60 persen kasus kebakaran berasal dari aktivitas sehari-hari di rumah tangga, seperti penggunaan listrik yang tidak aman, kebocoran gas, hingga pembakaran sampah sembarangan.
“Kadang masyarakat baru menelepon kami ketika api sudah membesar. Padahal kalau pelaporan dilakukan lebih cepat, penanganan juga bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Disdamkarmatan Kota Bandung sebenarnya telah memiliki standar response time yang cukup baik. Berdasarkan standar Kementerian Dalam Negeri, waktu tanggap ideal penanganan kebakaran yaitu 15 menit. Sementara itu, Kota Bandung saat ini mampu mencapai rata-rata waktu respons sekitar 8 menit 39 detik.
“Untuk menunjang kecepatan penanganan, Disdamkarmatan Kota Bandung juga memiliki empat UPT yang tersebar di wilayah timur, utara, barat, dan selatan Kota Bandung,” terangnya.
Meski demikian, Adhli menegaskan, upaya pencegahan tetap menjadi fokus utama Disdamkarmatan Kota Bandung saat ini. Berbagai edukasi dan pelatihan rutin terus dilakukan kepada sekolah, komunitas, hingga lingkungan RT dan RW agar masyarakat memahami langkah pencegahan serta penanganan awal kebakaran.
“Kami sekarang tidak hanya fokus pada pemadaman, tapi lebih kepada bagaimana masyarakat bisa siap siaga dan melakukan pencegahan sejak awal,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menjelang musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung mulai Juni hingga September 2026.
“Kondisi cuaca kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama dari alang-alang dan sampah kering di lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Disdamkarmatan Kota Bandung pun mengajak masyarakat aktif mengikuti pelatihan kebakaran. Warga, sekolah, maupun komunitas dapat mengajukan permohonan pelatihan secara resmi ke kantor Disdamkarmatan Kota Bandung di Jalan Sukabumi.
Meski angka kejadian kebakaran di Kota Bandung mengalami penurunan sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya, kewaspadaan masyarakat tetap perlu ditingkatkan agar risiko kebakaran dapat ditekan semaksimal mungkin. *red





















