BANDUNG, journalbroadcast.co — Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung, Rizal Khairul, menegaskan pentingnya pelestarian dan penulisan sejarah dilakukan secara akurat, objektif, serta berdasarkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut disampaikan Rizal saat menghadiri Bimbingan Teknis Penulisan Sejarah Tahun 2026 yang digelar di Hotel Savoy Homann, Kota Bandung, Selasa, 23 Juni 2026.
Rizal mengapresiasi antusiasme sekitar 50 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kepedulian masyarakat terhadap sejarah menjadi bagian penting dalam menjaga identitas, karakter, dan jati diri suatu daerah.
“Saya memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang memiliki kepedulian terhadap sejarah. Ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian sejarah dan kebudayaan,” ujar Rizal.
Ia mengatakan Kota Bandung telah memiliki regulasi di bidang kebudayaan yang menjadi landasan dalam menjaga dan mengembangkan potensi seni serta budaya daerah.
Sebagai kota jasa sekaligus kota yang memiliki perjalanan sejarah panjang, Bandung dinilai mempunyai kekayaan budaya yang dapat menjadi identitas dan daya tarik tersendiri.
Rizal menjelaskan, DPRD memiliki tiga fungsi utama, yakni legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Melalui ketiga fungsi tersebut, DPRD terus mendorong upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Menurutnya, sejarah memiliki posisi penting dalam memahami perjalanan suatu bangsa maupun daerah. Karena itu, penulisannya harus dilakukan secara hati-hati, objektif, dan tidak dipengaruhi kepentingan tertentu.
“Sejarah tidak boleh dibelokkan. Penulisan sejarah harus berdasarkan fakta dan referensi yang kuat, sehingga dapat menjadi pegangan bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Rizal juga menyoroti tantangan penulisan sejarah di tengah perkembangan teknologi digital. Saat ini, berbagai informasi sejarah dapat dengan mudah ditemukan melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Namun, kemudahan akses informasi tersebut harus diimbangi dengan proses verifikasi dan kajian yang mendalam agar informasi yang disebarluaskan tidak menimbulkan kekeliruan atau distorsi sejarah.
Ia berharap Bimbingan Teknis Penulisan Sejarah Tahun 2026 dapat menjadi ruang bagi peserta untuk memperkaya pengetahuan sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mendokumentasikan sejarah Kota Bandung secara lebih baik.
Pada kesempatan tersebut, Rizal juga menyinggung rencana penataan kelembagaan di bidang kebudayaan. Ia berharap langkah tersebut nantinya dapat memberikan perhatian dan fokus yang lebih besar terhadap pengembangan serta pelestarian budaya di Kota Bandung.
“Dengan perhatian yang lebih khusus terhadap kebudayaan, saya berharap berbagai potensi sejarah dan budaya Kota Bandung dapat terus terjaga serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.
Bimbingan Teknis Penulisan Sejarah Tahun 2026 diikuti sekitar 50 peserta dan menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi, praktisi, serta pemerhati sejarah.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya penulisan sejarah yang berbasis data, fakta, serta referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. *red





















