BANDUNG, journalbroadcast.co — Kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu faktor utama dalam mengurangi risiko dan dampak ketika bencana terjadi. Masyarakat dinilai tidak cukup hanya mengandalkan sistem peringatan dini, tetapi harus memiliki pengetahuan, keterampilan, serta mental yang tangguh dalam menghadapi situasi darurat.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung Kota Bandung, H. Soni Daniswara, S.E., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) “JAWARA” yang diselenggarakan Dinas Sosial Kota Bandung di Aula Kantor Kecamatan Coblong, Kamis (30/07/2026).
Menurut Soni, bencana merupakan peristiwa yang sulit diprediksi secara pasti. Meski teknologi pemantauan dan informasi dari BMKG terus berkembang, masyarakat tetap harus memiliki kesiapan secara mandiri.
“Jangan hanya mengandalkan sistem peringatan dini. Budaya kesiapsiagaan harus dibangun melalui edukasi dan latihan secara berkelanjutan,” ujar Soni.
Ia mencontohkan Jepang sebagai salah satu negara yang berhasil membangun budaya kesiapsiagaan bencana di tengah masyarakat. Edukasi mengenai kebencanaan telah dikenalkan sejak usia dini sehingga masyarakat terbiasa menghadapi kondisi darurat.
“Jepang menjadi contoh bagaimana sebuah negara membangun budaya kesiapsiagaan bencana. Masyarakatnya dibiasakan menghadapi situasi darurat sejak usia dini, sehingga mampu meminimalkan korban jiwa ketika gempa terjadi,” katanya.
Soni juga membagikan pengalamannya saat terlibat dalam penanganan bencana di Lombok dan Palu. Dari pengalaman tersebut, ia menilai tidak ada wilayah yang benar-benar siap menghadapi bencana tanpa adanya simulasi, edukasi, dan keterlibatan aktif masyarakat.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan kesiapan menghadapi bencana alam, tetapi juga menyangkut ketahanan Sumber Daya Manusia (SDM) serta ketersediaan berbagai sumber daya pendukung.
Masyarakat, kata dia, harus memiliki mental yang tangguh agar mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
“Kesiapan masyarakat harus dibangun sebelum bencana terjadi, bukan ketika bencana sudah datang,” tegasnya.
Selain SDM, kesiapsiagaan juga harus didukung perencanaan logistik yang matang. Mulai dari ketersediaan kebutuhan pokok, jalur evakuasi, hingga koordinasi antarinstansi perlu dipersiapkan sejak dini.
Hal tersebut dinilai penting mengingat Kota Bandung memiliki sejumlah potensi ancaman bencana, termasuk risiko yang berkaitan dengan aktivitas Sesar Lembang.
Soni juga mengingatkan agar keberadaan Kampung Siaga Bencana tidak hanya berfokus pada penanganan bencana alam. KSB juga harus memiliki kemampuan menghadapi bencana nonalam maupun bencana sosial.
Ia menyoroti fenomena judi online dan pinjaman online ilegal yang menurutnya telah menjadi persoalan sosial dan dapat berdampak terhadap ketahanan keluarga serta meningkatkan potensi munculnya persoalan kriminalitas di masyarakat.
Karena itu, Soni berharap pembentukan Kampung Siaga Bencana “JAWARA” di Kecamatan Coblong dapat menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun budaya gotong royong, meningkatkan kapasitas mitigasi bencana, sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat di tingkat kewilayahan.
“Kunci ketahanan sebuah kota bukan hanya pada infrastrukturnya, tetapi juga pada manusia yang siap, peduli, dan mau saling membantu ketika bencana datang,” pungkasnya. *red





















