Penulis: Susanto Triyogo Adiputro, Anggota DPRD Kota Bandung
BANDUNG, journalbroadcast.co — Di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan ini tidak semata menjadi momentum mengenang lahirnya dasar negara pada 1 Juni 1945, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: masihkah Pancasila menjadi pedoman hidup bangsa, terutama bagi generasi muda yang kelak menentukan arah Indonesia?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Saat ini, lebih dari 64 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Kondisi ini merupakan peluang strategis yang tidak dimiliki semua negara. Namun, sejarah menunjukkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan. Banyak negara gagal memanfaatkan momentum tersebut karena kehilangan arah pembangunan, lemahnya kualitas sumber daya manusia, serta krisis kepemimpinan.
Dalam konteks inilah Pancasila memiliki arti yang sangat penting. Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah yang dihafalkan di bangku sekolah, melainkan kompas moral yang mengarahkan perjalanan bangsa. Nilai-nilainya memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak mengabaikan kemanusiaan, demokrasi tetap menjunjung kebijaksanaan, dan pembangunan benar-benar menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Generasi muda Indonesia menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi pendiri bangsa. Jika dahulu ancaman datang melalui penjajahan fisik, kini ancaman hadir dalam bentuk yang lebih kompleks, seperti krisis identitas, polarisasi sosial, budaya instan, penyebaran disinformasi, hingga memudarnya semangat gotong royong.
Ironisnya, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana mempererat persatuan justru kerap berubah menjadi arena perpecahan. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, provokasi, serta pertentangan yang menguras energi kebangsaan. Oleh karena itu, membaca ulang makna Pancasila menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Pancasila harus dipahami sebagai panduan peradaban. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menanamkan pentingnya moralitas dalam kehidupan publik. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa setiap kebijakan harus berpihak kepada martabat manusia. Persatuan Indonesia menjadi fondasi utama dalam menjaga keberagaman bangsa. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan mengarahkan praktik demokrasi agar tidak sekadar prosedural, melainkan menghadirkan kebijaksanaan. Sementara itu, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi tujuan akhir dari setiap proses pembangunan nasional.
Dalam dinamika politik dan kehidupan kebangsaan saat ini, setidaknya terdapat tiga tantangan besar yang harus dijawab bersama.
Pertama, menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus globalisasi.
Kedua, memperkuat demokrasi agar tidak berhenti pada pelaksanaan pemilu semata, tetapi benar-benar menghasilkan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.
Ketiga, menghadirkan keadilan sosial yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Ketiga agenda tersebut pada hakikatnya merupakan implementasi nyata nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini juga memiliki makna strategis karena Indonesia sedang menuju dua tonggak sejarah besar, yakni 100 tahun Sumpah Pemuda pada tahun 2028 dan Indonesia Emas 2045.
Satu abad lalu, para pemuda Nusantara berhasil menanggalkan sekat-sekat kedaerahan demi melahirkan satu identitas bersama bernama Indonesia. Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali dalam konteks kekinian. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui organisasi pergerakan, kini perjuangan juga berlangsung di ruang digital yang membentuk pola pikir dan karakter generasi muda.
Media sosial tidak lagi sekadar ruang berekspresi, melainkan telah menjadi ruang kebangsaan. Setiap unggahan, komentar, maupun percakapan digital memiliki dampak terhadap kualitas persatuan nasional. Oleh karena itu, literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda.
Di sisi lain, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila didukung generasi yang memiliki empat modal utama, yaitu intelektualitas, integritas, kapasitas sosial, dan kepemimpinan.
Ke depan, tantangan bangsa dipastikan semakin kompleks. Oligarki ekonomi, korupsi, polarisasi politik, disinformasi digital, hingga krisis iklim merupakan persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda.
Tidak cukup hanya menjadi pengamat atau pengkritik. Kaum muda harus mengambil bagian sebagai pelaku perubahan melalui jalur politik, gerakan sosial, dunia pendidikan, kewirausahaan, inovasi teknologi, maupun kerja-kerja kebudayaan.
Pancasila telah memberikan arah. Sumpah Pemuda telah memberikan teladan. Kini saatnya generasi muda Indonesia mengambil peran sejarahnya.
Hari Lahir Pancasila hendaknya tidak berhenti sebagai agenda seremonial ataupun slogan tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh kualitas generasi yang mengisinya.
Dua tahun menuju satu abad Sumpah Pemuda dan kurang dari dua dekade menuju Indonesia Emas 2045. Waktu terus berjalan, sementara sejarah menanti kontribusi terbaik anak-anak bangsa.
Karena itu, Pancasila harus tetap menjadi kompas yang menuntun setiap langkah pembangunan bangsa, agar Indonesia bukan hanya menjadi negara yang maju secara ekonomi, tetapi juga bangsa yang bermartabat, berkeadilan, menjunjung tinggi kemanusiaan, serta senantiasa mendapat rahmat dan ridha Allah SWT.





















